|
|
 |
 |
 |
 |
| Salah satu kunci menaklukkan manusia salah satunya lewat perut. Makanan enak membuat ketagihan. Bahkan menghilangkan nalar sejenak sang penikmatnya. Beruntunglah Anda yang punya isteri pintar memasak |
Gado-gado Taksaka 2009-06-22 17:26:12 Oleh: Admin
Naik kereta api tidak hanya lebih aman dan romantis, tapi juga bisa bikin ketagihan kalau ada menu khas yang menggoda selera. Benar, bahwa penumpang kereta api kita tahun ini mencapai 179.000.000 orang! Tapi banyak penumpang kurang happy. Bahwa mereka memilih kereta api karena tidak ada pilihan lain. Banyak penumpang tidak happy lantaran banyak fasilitas (kursi, pintu otomatis, ac, kipas angin, toilet) yang tidak berfungsi serta pelayanan yang seadanya.
Menu di atas kereta api apa adanya. Nyaris tidak ada makanan yang berselera yang bisa membuat penumpang betah atau merasa perlu naik kereta api lagi karena menunya. Orang hanya ingat di kereta api itu menu utamanya; nasi goreng, mie rebus dan beef steak, yang biasa-biasa saja. Terlebih menu jatah (tuslah) yang diberikan kepada penumpang -nasi empat sendok makan, ayam sebesar jempol atau bandeng seiris, sayur layu dan kerupuk udang kecil-. Sungguh menyiratkan kesan betapa tak mempedulikan selera.
Ini di luar catatan sejumlah kasus-kasus pelayanan yang membuat penumpang seperti terjebak dan tidak nyaman. Apakah pengelola restorasi tidak paham kuliner atau kurang profesional dan hanya mengejar keuntungan? Tidak sesederhana seperti itu.
Betul bahwa pengelola restorasi memperoleh beaya jatah makan penumpang (tuslah) dari PT KA sebesar Rp 18.500,- (makan siang atau malam) dan Rp 7.500,- untuk kue dan minuman. Hanya sayangnya dalam pelaksanaan, seluruh menu yang disediakan oleh pengelola swasta maupun anak perusahaan PT KA itu, ditentukan oleh pengelola KA yang tak paham kekayaan kuliner Indonesia. Hampir semua pengelola restorasi keluhannya adalah menu ditentukan PT KA, meski setiap waktu mereka juga sering mengusulkan menu berbeda.
Setiap tahun, PT KA membayar Rp 100 miliar kepada pengelola restorasi, tapi tidak memberikan nilai tambah bagi penumpang KA. Penumpang tentu tak akan mau tahu bahwa sejumlah uang yang diterima pengelola restorasi juga dibagi ke kiri-kanan. Mereka hanya tahu betapa menu makanan tak membangkitkan selera penikmat kuliner.
Entah karena sebab-sebab ini, direksi yang baru merevisi soal restorasi di kereta api ini; tuslah ditiadakan atau dilakukan dengan penjualan bebas. Di sinilah pengelola restorasi akan diuji profesioanalitasnya lewat pelayanan dan menu. Restorasi yang memiliki menu dan memberikan pelayanan terbaik akan benar-benar ditentukan di lapangan. Kompetisi ini akan menjadi kreatif dan dinamis selagi pengelola tidak hanya satu perusahaan. Setidaknya kontribusi beberapa pengelola restorasi yang selama ini ada, layak diperhitungkan dalam pendekatan baru kepada penumpang lewat kekayaan kuliner.
Di sinilah hukum pasar ekonomi berlaku; supplay (pasokan) dan demand (kebutuhan). Para penumpang sekarang bisa bayangkan -sekiranya hal ini terjadi- akan ada pesta kuliner setiap hari di atas kereta api; Gado-Gado Taksaka, Nasi Rames Anggrek, Bubur Bima, Rames Ceker Dwipangga, Nasi Liwet Khas Lawu, Nasi Timbel Wilis, Nasi Goreng Mak Nyuss Harina, Pecel Rajawali, Nasi Campur Gajayana, Bebek Steak Sindoro, Cap Go Me Muria atau Teh Sruput Prameks.
Hemmm, nantinya, naik kereta api jadi tambah berselera………………………….
|
|
 |
 |
 |
 |
|